IAPPI Community On The Net
Ahlan wasahlan di forum IAPPI,
Anda belum masuk silakan login atau register.
Agar Anda bisa berpartisifasi dalam forum IAPPI ini.


Forum Komunikasi IAPPI Pesantren Persatuan Islam
 
IndeksGalleryCalendarFAQAnggotaGroupPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Ruh Shaum Ramadlan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Hakim
Moderator
Moderator


Male Jumlah posting : 49
Localisation : Bandung
Registration date : 14.10.06

PostSubyek: Ruh Shaum Ramadlan   Wed 26 Sep - 21:25:45

Dalam setiap ibadah yang disyariatkan Allâh, tidaklah hanya bentuk dan wujud dari amal ibadah itu sendiri secara zhahir, akan tetapi juga terdapat ruh, jiwa, atsar, didikan penting yang terkandung dalam ibadah itu untuk kemaslahatan hidup keseharian kita. Ibadah shalat misalnya, tidak hanya wujud dan gerakan-gerakan dalam shalat itu, tetapi tersimpan juga di dalamnya ruh shalat, misalnya; dapat mencegah dari pekerjaan fahsya dan munkar, menjadikan budi pekerti menjadi baik, tubuh, pakaian dan tempat menjadi bersih, juga dengan shalat itu kita dapat pertolongan untuk melaksanakan segala amalan dunia dan menyelesaikan segala keperluan hidup bermasyarakat.

Zakat juga terdapat ruh di dalamnya yaitu, memperbaiki urusan hidup (pergaulan-sosial) yakni, untuk menegakkan hidup yang bersifat tolong-menolong atau mengadakan masyarakat yang sosialistis, menjadikan tiap-tiap anggota masyarakat Islam itu bermanfaat berguna dan berfaidah kepada masyarakat dan pergaulan, mensucikan jiwa dari sifat kikir yang merupakan suatu penyakit yang membahayakan masyarakat, apabila penyakit kikir telah berakar pada suatu bangsa akan timbul berbagai kemungkaran dan kejahatan dalam masyarakat itu. Salah satu fungsi zakat itu untuk mencabut dendam dari orang-orang fakir dan orang-orang yang berhajat terhadap orang-orang kaya, tegasnya untuk mencabut benih-benih dengki dari orang fakir terhadap kaum agniya (hartawan).

Dalam ibadah haji pun tersirat ruh haji, membesarkan Baitullah yang telah dijadikan suatu syiar agama yang besar. Haji itu merupakan jalan kepada perikatan kemanusian yang umum dan jalan perkenalan manusia dari segala penjuru dunia, mewujudkan satu persatuan besar yang bernaung di bawah panji-panji tauhid. Semua mereka bercita-cita satu yaitu, menghadap kepada hadirat Allâh‎, segenap lidah membunyikan labbaika al-lahumma labbaik, di sanalah dihadapan Allâh mereka saling berjanji akan bekerja sama dan saling tolong-menolong. Haji itu semata-mata Kongres Dunia yang dikunjungi oleh bangsa-bangsa di dunia dan tempat memperlihatkan kemajuan-kemajuan dunia, ia merupakan ma’radh 'am (pameran umum -dunia-).

Demikian pula halnya dengan shaum Ramadlan, terdapat ruh, jiwa, atsar, didikan yang tersirat di dalamnya untuk kebaikan hidup dalam keseharian kita. Ruh-ruh itu telah disinggung Allâh swt dalam beberapa ayat Alqurân juga dalam hadits-hadits Nabi. Ayat yang berkaitan dengan shaum Ramadlan dalam Alqurân, jika ditelaah berbeda dengan ayat lain. Kalau ayat yang menjelaskan tentang shalat misalnya, itu terletak dalam beberapa surat yang berbeda dan ayat yang tidak berurutan, terdapat dalam surat al-Baqarah 3, 43, 45, 83, al-Nisa 43, 77, 101 dan lain sebagainya. Demikian juga ayat yang menjelaskan tentang zakat, terdapat dalam surat al-Baqarah 43, 83, 110, al-Nisa 77, 162 dan lainnya.

Sementara ayat yang menjelaskan dan berkaitan dengan shaum Ramadlan, hanya terdapat dalam satu surat yaitu, al-Baqarah dalam satu ruku yang terdiri dari enam ayat secara berurutan yaitu, mulai dari ayat 183 sampai 188 surat al-Baqarah. Dan pada setiap akhir dari ayat-ayat tersebut disebutkan Ruhnya oleh Allâh swt. Secara garis besar, isi dari ayat-ayat tersebut antara lain sebagai berikut;

Dalam al-Baqarah 183 berisikan tentang ketetapan wajib shaum, yang shaum tersebut telah diwajibkan pula pada orang-orang terdahulu. Al-Baqarah 184 tentang hari-hari yang ditentukan untuk shaum, kewajiban bagi yang sakit, safar dan yang berat menjalankannya. Al-Baqarah 185 tentang bulan Ramadlan sebagai bulan turunnya Alqurân, tujuan fidyah dan qadla sebagai keringanan dan untuk menyempurnakan bilangan. Al-Baqarah 186 dijelaskan al-Maraghi antara lain, tentang dorongan bagi hamba untuk berdo’a, dan cara berdo’a dengan suara yang tidak keras, karena Allâh itu dekat dan maha mendengar1.

Ayat 186 ini seolah-olah tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat yang terdahulu, namun apabila diperhatikan secara mendalam bahwa ayat ini tidak jauh dari suasana shaum. Allâh menerima sesuatu amal yang dikerjakan oleh orang yang taqwa kepada-Nya. Maka bila shaum telah menghasilkan taqwa berarti ia telah mencapai tujuannya. Tujuan taqwa ialah mencapai keridlaan Allâh. Di dalam keridlaan Allâh kita memperoleh taufiq, memperoleh kasih sayang-Nya dan Dia memperkenankan do’a kita.

Maka pengertian yang kita ungkapkan dari ayat ini ialah Allâh senantiasa berdekatan dengan hamba-hambanya yang shaleh, memperkenankan do’a mereka, memberi petunjuk kepada mereka, dan memberi bantuan rohani kepada mereka. Ayat ini mengisyaratkan supaya kita mempergunakan bulan Ramadlan untuk berdo’a kepada Allâh.

Al-Baqarah 187 dijelaskan Jalaludin al-Suyuthi yang berisikan antara lain, perubahan shaum bagi umat Muhammad yaitu, bolehnya bercampur suami istri di malam hari bulan shaum dan mulai shaum dari awal fajar sampai datang malam2. Dan dalam al-Baqarah 188 tentang apa yang mesti kita makan yaitu, jangan makan dari harta yang diperoleh dengan cara yang bathil. Secara zhahir ayat ini juga tidak langsung menyebutkan tentang shaum, akan tetapi menurut al-Shabuni terdapat munasabah (kaitan) dengan ayat sebelumnya yaitu, pada ayat terdahulu Allâh menjelaskan hukum-hukum shaum dan kebolehan bagi orang mukmin untuk menikmati kesenangan; makan, minum, dan bercampur di malam Ramadlan. Maka pada ayat ini dijelaskan pula tentang makanan, yaitu, larangan memakan harta dengan cara yang tidak hak, karena orang muslim tidak layak untuk bersenang-senang dengan memakan harta yang haram baik pada bulan Ramadlan juga pada bulan yang lain3.

Dalam setiap akhir dari ayat-ayat yang menjelaskan dan berkaitan dengan shaum Ramadlan di atas, Allâh‎ menjelaskan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut adalah,

1. La’allakum tattaqűn (supaya kamu bertaqwa) dalam al-Baqarah 183. Untuk ini dijelaskan Mahmud Hijazi antara lain, untuk menyiapkan (manusia) bertaqwa dengan beribadah kepada Allâh swt baik dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan.

2. In kuntum ta’laműn (jika kamu mengetahui) dalam al-Baqarah 184. Al-Shabuni menafsirkan, jika kamu mengetahui ganjaran dan fadlilah apa yang terkandung dalam shaum.

3. La’allakum tasykurűn (supaya kamu bersyukur), dalam al-Baqarah 185. Ibnu Katsir menjelaskannya, agar kamu menjadi dari antara orang-orang yang (pandai) bersyukur.

4. La’allahum yarsyudűn (supaya mereka selalu berada dalam kebenaran) dalam al-Baqarah 186. Ibnu al-Jauzi mengutip pendapat Abu al-Aliyah yang memaknai dengan kata, yahtadűn (agar mereka mendapatkan hidayah).

5. La’allahum yattaqűn (supaya mereka bertaqwa) dalam al-Baqarah 187.

6. Wa antum ta’laműn (padahal kamu mengetahui), dalam al-Baqarah 188.

Dari keenam tujuan di atas jika dilihat terdapat tujuan yang sama, yaitu, pada al-Baqarah 183 dan 187 adalah ketaqwaan dan antara al-Baqarah 184 dan 188 yaitu, keilmuan. Dengan demikian jika disimpulkan, terdapat empat tujuan dalam ibadah shaum; al-Taqwa (tujuan untuk mencapai ketaqwaan), al-Ilmu (tujuan untuk memperoleh ilmu), al-Syukru (tujuan untuk meningkatkan rasa syukur), al-Rusyd tujuan untuk memperoleh petunjuk jalan kebenaran). Dari tujuan al-taqwa (La’allakum tattaqűn) tersirat adanya ruh, jiwa dan atsar shaum. Dengan kata lain, hendaknya kita bekerja, beramal dan terus berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Kerja dan amal yang disertai rasa takut akan Allâh, bukan takut karena manusia serta yang lainnya. Pada tujuan al-ilmu (In kuntum ta’laműn) terkandung ruh, hendaklah dalam keseharian hidup, terus belajar meningkatkan ilmu pengetahuan, dengan ilmu segala sesuatu itu dapat tercapai. Pada al-Syukru (La’allakum tasykurűn) tersimpan ruh, hendaknya kita pandai mensyukuri nikmat, selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allâh; syukur dengan hati (syukrun bi al-Qalbi), dengan lisan (syukrun bi al-lisan), dengan anggota badan (syukrun bi al-Jawarih). Dan pada tujuan al-Rusydu (La’allahum yarsyudűn) tersirat ruh padanya, dalam hidup hendaknya selalu berusaha berada dalam kebenaran, ada pada petunjuk yang diridlai Allâh, senantiasa berusaha menempatkan diri dalam jalan benar bukan jalan yang berseberangan dengan haq. []

Ringkasan Khutbah Jum'at Masjid Persatuan Islam Pajagalan-Bandung 21 September 2007
Khatib: Drs. Dedeng Rosyidin, M.Ag

Sumber: Buletin Jum'at Pajagalan Online
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Ruh Shaum Ramadlan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
IAPPI Community On The Net :: Pesantren Virtual :: Artikel-
Navigasi: