IAPPI Community On The Net
Ahlan wasahlan di forum IAPPI,
Anda belum masuk silakan login atau register.
Agar Anda bisa berpartisifasi dalam forum IAPPI ini.


Forum Komunikasi IAPPI Pesantren Persatuan Islam
 
IndeksGalleryCalendarFAQAnggotaGroupPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Pesantren Kecil Persatuan Islam: Berawal dari Sebuah Taklim

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
H-Qm
Admin
Admin


Male Jumlah posting : 113
Localisation : Pajagalan 14-16
Registration date : 13.10.06

PostSubyek: Pesantren Kecil Persatuan Islam: Berawal dari Sebuah Taklim   Thu 15 May - 21:10:48

Pada umumnya agama dianut secara turun temurun, hingga ajaran animisme dan dinamisme masih kental dalam penerapan ajaran Islam. Hal inilah yang menjadi landasan bagi Persatuan Islam (Persis) untuk membentuk sebuah lembaga pendidikan.

Awalnya, Persis mendirikan Pesantren Besar yang diperuntukkan untuk orang-orang dewasa yang bertempat di Bandung. Harapannya, pesantren yang berdiri sejak 4 Maret 1936 ini dapat mencetak mubalig yang mampu mendakwahkan, mengajarkan, membela, serta memelihara agama Islam. Pada perkembangannya, banyak orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjalani pendidikan di pesantren. Akhirnya Ustadz A Hasan, sebagai pemimpin pesantren, berinisiatif untuk membuka pesantren yang kemudian disebut Pesantren Kecil. Tak kurang 100 murid belajar setiap sore di pesantren ini.

Maret 1940, Pesantren Besar berpindah ke Bangil Jawa Timur. Perpindahan pesantren ini tak diikuti dengan perpindahan Pesantren Kecil. Bersama Ustadz E Abdurrahman dan Ustadz O Qomaruddin, Pesantren Kecil terus berjalan.

Hingga revolusi kemerdekaan berlangsung pada 1945, Pesantren Kecil berpindah ke Gunung Cupu, Ciamis. Setelah revolusi mereda, sekitar 1948 pesantren Persis dibuka kembali tepatnya di Jalan Kalipah Apo, Bandung. Dua tahun setelahnya, KH Zamzam mewakafkan rumahnya untuk dijadikan pesantren.

Masih di tempat yang sama, hingga kini pesantren tersebut masih berdiri, malah bertambah kokoh. Sekitar 1300 murid menimba ilmu di tempat tersebut. Mereka tak hanya berasal dari Bandung, beberapa di antaranya dari Sumatra, Flores, bahkan Malaysia, dan Singapura.

Pendidikan yang diterapkan di sini adalah bagaimana setiap pengajar bisa mencintai muridnya seperti ia mencintai anaknya sendiri, ujar Ustadz Atang, pemimpin Pesantren Persis, di Bandung, Rabu (9/4). Menurutnya, perbedaan pesantren ini dengan pesantren lain terletak pada kedekatan murid dan guru. Uniknya lagi, kalender pendidikan di pesantren ini tak menganut kalender pendidikan pada umumnya. Mereka memiliki ciri khas Islami, yakni menggunakan kalender bulan Hijriyah. Sepuluh hari sebelum Ramadhan pelaksanaan belajar mengajar dimulai. Setiap hari Jumat sekolah ini diliburkan, begitu juga dengan hari-hari ibadah khusus seperti Tasu’a Asyuro (9 dan 10 Muharam), Idul Adha dan Ayyamu Tasrik.

Meski kalender pendidikannya mengikuti kalender Hijriyah, namun pelajaran yang diberikan tak hanya berkutat di bidang Islam. Mereka juga diajarkan bidang lain layaknya sekolah-sekolah formal. Porsi antara bidang Islam dengan lainnya saat ini 50:50, ujar Ustadz Atang. Jenjang pendidikan yang dilaksanakan di Pesantren Persis antara lain Raudhatul Athfal, Tajhiziyyah, Tsanawiyyah, Dinniyyah Wustha, dan Mu’allimin. Seluruh jenjang pendidikan ini juga disesuaikan dengan sekolah formal. Jumlah pengajar di pesantren Persis tersebut sekitar 50 orang.

Sebelum 1998, kurikulum di pesantren ini tidak mewajibkan muridnya mengikuti ujian negara. Namun, mengingat kebutuhan murid, kini setiap murid wajib mengikutinya. Selain belajar akademik, murid bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Di tempat ini disediakan laboratorium bahasa dan ruangan multimedia. Sarana ini ditujukan agar murid memiliki kemampuan lebih selain kemampuan akademik. Namun, pesantren ini memang tak menyediakan asrama bagi murid-muridnya. Asrama diperuntukkan bagi murid yang berasal dari daerah jauh.

Setiap murid harus membayar sekitar Rp 60 ribu setiap bulannya. Itupun bagi murid yang mampu membayar. Menurut Ustadz Atang, sekitar 30 persen murid tak bisa membayarkan uang tersebut. Namun, pihak pesantren tak memaksa mereka untuk membayar. Kendalanya memang di permasalahan dana, sebenarnya kami ingin membangun laboratorium IPA, namun biaya tak mencukupi, tutur Ustadz yang telah berumur 73 tahun tersebut. Tak hanya itu, pengajarnya pun tak bergaji besar.

Bukannya menjadikan kendala tersebut sebagai hambatan, justru kekurangan ini menjadikan tantangan bagi Ustadz Atang dan rekan-rekannya untuk membangun pesantren tersebut. Buktinya tak sedikit lulusan mereka yang menjadi mubalig. Beberapa di antaranya mendirikan pesantren Persis di daerah lain seperti Jakarta, Banjarmasin, Palu, Flores, Batam, Medan, Subang, Ciamis, dan daerah lainnya. Setidaknya 164 pesantren Persis telah berdiri di seluruh Indonesia. Kita di sini untuk memelihara diri sebelum mati, ujar Ustadz. Mereka, tambah Ustadz, tak ingin mengubah manusianya, melainkan mengubah moralnya agar bisa mencintai sesama hidup. mj02

Republika, Jumat, 18 April 2008

_________________
"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (Qs. Attaubah [9]:105)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.hakimtea.com
 
Pesantren Kecil Persatuan Islam: Berawal dari Sebuah Taklim
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
IAPPI Community On The Net :: Info Pesantren :: Pesantren Persatuan Islam 1-2-
Navigasi: