IAPPI Community On The Net
Ahlan wasahlan di forum IAPPI,
Anda belum masuk silakan login atau register.
Agar Anda bisa berpartisifasi dalam forum IAPPI ini.


Forum Komunikasi IAPPI Pesantren Persatuan Islam
 
IndeksGalleryCalendarFAQAnggotaGroupPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Budaya "Nadran"an di Hari Raya

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Hakim
Moderator
Moderator


Male Jumlah posting : 49
Localisation : Bandung
Registration date : 14.10.06

PostSubyek: Budaya "Nadran"an di Hari Raya   Fri 5 Oct - 0:31:57

Budaya "Nadran"an di Hari Raya

Iedul Fithri merupakan suatu hari yang sarat dengan nuansa kebahagiaan dan kebersamaan. Betapa tidak, pada hari ini hampir semua umat Islam -setidaknya untuk tradisi keindonesiaan- menumpahkan kebahagiaannya dengan mengenakan pakaian baru, hidangan makanan yang jarang dihidangkan di luar Iedul Fithri, saling berkunjung dan saling memohon maaf kepada tetangga dan para kerabat, dan lain sebagainya. Semua ini merupakan ekspresi sosial yang biasa nampak dan kita rasakan pada Hari Raya Iedul Fithri.

Disamping itu ada nuansa lain yang erat kaitannya dengan Iedul Fithri yaitu nuansa haru dan kerinduan pada orang-orang penting bagi seseorang yang telah meninggal dunia, terutama bagi mereka yang telah ditinggal oleh orang tuanya. Keharuan dan kerinduan inilah -yang penulis tangkap- sebagai salah satu indikasi dari ramainya tempat-tempat pemakaman yang dikunjungi orang di hari raya ini.

Tradisi ziarah kubur (yang bagi sebagian daerah sunda disebut “nadranan”) seolah-olah menjadi agenda pokok yang harus dilaksanakan sehubungan dengan Iedul Fithri. Biasanya orang mengunjungi keburan orang tua, kakek nenek, ataupun orang yang dianggap penting dan berjasa baginya selama mereka hidup. Seperangkat alat “nadran”an pun tidak lupa dibawa, minimal air putih dan bunga untuk ditaburkan ke kuburan, serta Alquran atau buku “Yasinan” untuk dibacakan di atas kuburan yang dikunjungi.

Dalam sebuah hadits yang diantaranya dicatat oleh Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah, Nabi Saw., pernah menyatakan bahwa nilai yang terkandung dalam ziarah kubur ini adalah penyadaran diri akan kehidupan yang tidak abadi dan sesuatu yang akan dihadapi seseorang setelah kematian. Dengan tujuan inilah pada akhirnya Rasulullah Saw., mengizinkan para shahabatnya dan kita semua untuk melakukan ziarah kubur, yang pada awalnya merupakan perbuatan yang sempat dilarang dengan sabdanya, “Ziarahilah kuburan oleh kalian, karana hal itu (salah satu perbuatan yang akan lebih) mengingatkan kalian terhadap kematian.”

Diantara petunjuk Nabi Saw., tentang ziarah kubur ada satu hal yang mesti kita lakukan, yaitu memintakan ampunan dan kebaikan bagi mereka yang telah meninggal. Dengan kata lain do’akanlah mereka bukannya justru meminta do’a atau berkah kepada orang yang telah meninggal.

Ziarah kubur memang suatu hal yang dianjurkan namun ketika hal tersebut dikaitkan dengan waktu-waktu tertentu, kuburan-kuburan, perlengkapan dan praktek-praktek tertentu lainnya di luar anjuran Rasulullah Saw., maka bisa jadi larangan Rasulullah Saw., untuk berziarah kubur berlaku kembali pada masa dan kondisi tersebut. Alih-alih menginginkan pahala dari perbuatan yang kita anggap baik, justru kita berdosa karena melakukan sesuatu yang tidak baik menurut anjuran Nabi Saw.

Allah Swt., berfirman yang artinya, “Katakanlah, apakah kalian ingin kalau Kami beritahukan tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Qs. Alkahfi [18]:103-104)

Wallahu a’lam bishshawaab.

Didin Saefuddin, S.Thi
Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 2 Bandung

Sumber: Buletin Pajagalan Online
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Budaya "Nadran"an di Hari Raya
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
IAPPI Community On The Net :: Pesantren Virtual :: Artikel-
Navigasi: