IAPPI Community On The Net
Assalamu'alaikum wr wrb.,
Anda belum masuk silakan login atau register.
Agar Anda bisa berpartisifasi dalam forum IAPPI ini.



 
IndeksGalleryCalendarFAQAnggotaGroupPencarianPendaftaranLogin
Share | 
 

 FIQIH SHAUM RAMADLAN (IV)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
H-Qm
Admin
Admin


Male Jumlah posting: 113
Localisation: Pajagalan 14-16
Registration date: 13.10.06

PostSubyek: FIQIH SHAUM RAMADLAN (IV)   Wed 3 Oct - 19:55:57

FIQIH SHAUM RAMADLAN (IV)

DO’A SAAT SHAUM

Pada rangkaian ayat-ayat shiyam dalam QS. Al-Baqarah 183-187 ada terselip ayat 186. ayat tersebut dilihat tidak ada kaitan langsung dengan bab shiyam.

واذا سالك عبادي عني فاني قريب اجيب دعوة الداع اذا دعان فليستجيبوالى وليؤمنوا بى لعلهم يرشدون


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan pertanyaan seorang Arab gunung kepada Rasulullah Saw, “apakah Tuhan kita itu dekat? Saya akan merendahkan suara (munajat) kepada-Nya. Ataukah Dia jauh? Saya akan berseru (dengan suara keras) kepada-Nya. Rasulullah Saw diam sejenak, kemudian turunlah ayat ini. (Riwayat Ibnu Jarir at-Thabary).

Dari ayat diatas kita dapat fahami bahwa:

1. Berdo’a sangat dianjurkan saat-saat kita beribadah. Ibadah shaum adalah ibadah yang lama waktunya, sebaiknya kita banyak berdo’a kepada Allah;

2. Berdo’a itu harus dengan suara yang pelan (munajat), karena Allah itu maha dekat dan maha mendengar. Pada Q.S. 50 ayat 16 dijelaskan bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher hamba-Nya. Jadi sebelum seseorang mengutarakan maksudnya, Allah sudah mengetahuinya. Sebab itu haram hukumnya berdo’a dengan suara keras apalagi menggunakan pengeras suara;

3. Setiap do’a akan diijabah Allah. Sabda Rasulullah Saw, “tidak ada seorang muslim yang berdo’a dengan satu permintaan selama ia tidak berbuat dosa dan memutus shilaturrahim kecuali Allah akan mengabulkannya dengan tiga kemungkinan: a. disegerakan permintaannya, b. ditangguhkan diakhirat, c. dihindarkan dari bencana seukuran permintaannya. (HR. Ahmad).

4. Syarat dikabulkan do’a adalah memenuhi perintah Allah dan beriman kepada-Nya. Saat bulan Ramadlan kita sedang melaksanakan perintah Allah dan meningkatkan keimanan. Sepanjang hari dan malam tidak ada saat yang kosong dari ibadah. Barangkali itulah sebabnya ayat ini disimpan diantara ayat-ayat shiyam.

Pemahaman diatas dikuatkan pula oleh sabda Rasulullah Saw:

ثلاثة لاترد دعوتهم : الصائم حتى يفطر, والامام العادل, والمظلوم


“Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya; shaaim saat ia ifthar, imam yang adil, dan yang dianiaya”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Tetapi menurut Ibnu Majah dan Ibnu Sunni bahwa berdo’a itu dianjurkan saat ifthar, karena sabda Rasulullah Saw:

ان للصائم عند فطره دعوة ما ترد


”Sesungguhnya bagi orang-orang yang shaum, diwaktu ia berbuka tersedia do’a yang makbul”.

Adapun do’a yang dianjurkan adalah mendahulukan istighfar, istirham. Selanjutnya kita bisa berdo’a sesuai dengan kebutuhan dan dengan bahasa masing-masing. Adalah Abdullah bin Amr bin ‘Ash yang meriwayatkan hadits diatas, suka berdo’a saat ifthar:

اللهم انى اساْلك برحمتك التى وسعت كل شيء ان تغفرلى


Dan disaat berbuka Abdullah (bin Amr bin ‘Ash) mengucapkan dalam do’anya, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuniku”. (Ibnu Majah)

Pada riwayat Abu Dawud, an-Nasaaiy, al-Hakim, dan al-Bayhaqiy, Rasulullah Saw berdo’a:

ذهب الظماْ, وابتلت الغروق, وثبت الناْجر ان شاء الله تعالى


“Tidak lenyap haus dahaga, telah basah urat-urat dan Insya Allah ditetapkan pahala”. Sedangkan do’a ALLAHUMMALAKASHUMTU WA ALA RIZQIKA AFTHATU dinyatakan mursal oleh Abu Dawud yang meriwayatkannya. Sekalipun mempunyai syahid tetapi masih diragukan keshahihannya. Sedangkan waktu sahur tidak ada do’a khusus atau bacaan tertentu, tidak ada pelafazhan niat.

ADAB SHAUM

1. Membulatkan niat sebelum fajar. Sabda Rasulullah saw:

من لم يجمع الصيام قبل الفجر, فلا صيام له


“Siapa yang tidak membulatkan niatnya buat shaum sebelum fajar, maka tidak sah shaumnya”. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan ash-Habus Sunan, dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

2. Makan sahur. Sabda Rasulullah Saw:

تسحروا فان فى السحور بركة


“Bersahurlah, karena dalam sahur itu ada barokah”. (HR. Ahmad, al-Bukhariy dan Muslim dan lainnya).

السحور بركة, فلا تدعوه ولو ان يجرع احدكم جرعة ماء, فان الله وملائكته يصلون على المتسحرين


“Bersahur itu berkah, maka jangan kamu tinggalkan, walau seorang diantaramu itu akan minum seteguk air. Karena Allah akan memberi rahmat dan malaikat-Nya akan mengucapkan salawat bagi orang-orang yang bersahur”. (HR. Ahmad).

3. Menyegerakan ifthar (ta’jil) dengan mengakhirkan sahur. Para sahabat Rasulullah Saw itu adalah orang-orang yang paling segera berbukanya, dan paling terlambat sahurnya. (Diriwayatkan oleh imam al-Bayhaqi dengan sanad yang shahih).

4. Ta’jil sebelum shalat maghrib.

اذا قدم العشاء فابدءوا به قبل صلاة المغرب, ولا تعجلوا عن عشائكم


“Jika makanan malam telah dihidangkan, maka makanlah dulu sebelum shalat maghrib, janganlah makan malammu itu diakhirkan”. (HR. al-Bukhariy Muslim).

Rasulullah Saw biasa ta’jil sebelum shalat mafgrib dengan kurma hitam, jika tidak ada dengan kurma biasa, bila tidak ada hanya air. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

5. Mengutamakan ifthar dengan kurma atau air. Sabda Rasulullah Saw:

اذا افطر احدكم فليفطر على تمر


jika salah seorang diantaramu ifthar, maka iftharlah dengan kurma. (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud). Pada hadits lain disebutkan, sabda Rasulullah Saw, “Jika tidak ada kurma iftharlah dengan air, karena air itu bersih”. (HR. at-Tirmidzi).

6. Berkata dan bertingkah sopan, sabda Rasulullah Saw:

ليس الصيام من الاكل والشرب, انما الصيام من اللغو, والرفث, فان سابك احد, او جهل عليك, فقل: انى صائم انى صائم


“Ttidaklah shaum itu dari makan-minum, tetapi shaum itu adalah dari perkataan jorok dan perbuatan yang tidak senonoh. Maka jika kau dicaci orang atau diperbodohnya, hendaklah katakan: “saya sedang shaum, saya sedang shaum”. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban juga oleh Hakim yang menyatakannya sah menurut syarat Muslim).

7. Tidak berdusta atau ghibah. Pada saat tidak shaum juga dusta itu terlarang, tetapi pada bulan Ramadlan dusta itu dapat menghilangkan pahala shaum. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة فى ان يدع طعامه وشرابه


“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakan perbuatan dusta itu, maka bagi Allah tidak perlu (memberi pahala) karena ia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. al-Jamaah).

Dari Jabir r.a. berkata:

“Jika kamu shaum, maka telingamu, penglihatanmu, dan lidahmu harus shaum juga dari kebohongan dan hal-hal yang diharamkan serta menyakiti tetangga, dan hendaklah kamu dalam kondisi bersahaja dan tenang, dan janganlah hari shaummu dan hari tidak shaummu sama saja”.

8. Memberi makan untuk ifthar. Lebih-lebih saat kita sedang shaum. Sabda Rasulullah Saw:

من فطر صائما كتب له مثل اجره


“Siapa yang memberi ifthar kepada yang shaum, ditetapkan pahalanya seperti pahalanya (shaaim). (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). (Mu’jam).

9. Banyak berbuat baik dan sering membaca al-Quran. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

كان رسول الله صلعم اجود الناس, وكان اجود ما يكون فى رمضان حين يلقاه جبريل, وكان يلقاه فى كل ليلة من رمضان فيدارسه القران, فلرسول الله صلعم اجود بالخير من الريح المرسلة


“Adalah Rasulullah Saw orang yang paling dermawan, lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan yaitu ketika ditemui Jibril. Adalah Jibril pada setiap malam dari Ramadlan mentadarus al-Quran kepadanya. Dan sungguh Rasulullah Saw adalah paling dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang bertiup (kebaikannya cepat dan merata).

Sumber: www.persis.or.id

_________________
"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (Qs. Attaubah [9]:105)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.hakimtea.com
 

FIQIH SHAUM RAMADLAN (IV)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
IAPPI Community On The Net :: Pesantren Virtual :: Fiqih Islam-